ARCOM-MEDIA, Bandung. Kota Bandung kembali menjadi ruang pulang bagi musik yang jujur dan tak ingin berjarak, pada Rabu malam, 4 Februari 2026, di Roots Bandung di jalan Gudang Selatan, menjadi saksi sebuah pertemuan istimewa lewat Intimate Showcase yang mempertemukan dua nama penting dalam skena musik alternatif Indonesia, Hindia dan Feast.
Digelar dengan format konser intim, pertunjukan ini dirancang bukan sekadar sebagai panggung hiburan, melainkan ruang pertemuan batin antara musisi dan pendengarnya.
Tanpa jarak yang kaku, penonton diajak merasakan musik, lirik, dan emosi secara langsung, hangat, personal, dan apa adanya.

Dimulai sekitar pukul 21.30 WIB, Hindia dan Feast berbagi satu panggung dalam satu malam spesial, Hindia hadir dengan lagu-lagu reflektif yang selama ini menjadi teman perjalanan banyak orang, sementara Feast membawa energi panggung dan narasi sosial yang tajam, dua pendekatan berbeda, namun saling melengkapi dalam satu ruang intim.
Sejak album Menari dengan Bayangan (2019), Hindia dikenal lewat lagu-lagu seperti “Rumah ke Rumah”, “Secukupnya”, “Evaluasi”, hingga “Membasuh”, karya-karya yang tumbuh bersama pendengarnya, melampaui waktu dan fase hidup.
Perjalanan itu berlanjut lewat Lagipula Hidup Akan Berakhir (2023), dengan lagu-lagu seperti “Kita ke Sana”, “Cincin”, “Berdansalah, Karir Ini Tak Ada Artinya”, hingga “Bayangkan Jika Kita Tidak Menyerah”, yang merekam kegelisahan generasi secara lebih terbuka.

Rilisan terbarunya, “Doves, ’25 on Blank Canvas” (2025), menambah lapisan baru dalam perjalanan musikal Hindia.
Lagu seperti “everything u are” merefleksikan peristiwa sepanjang 2024 yang, ironisnya, masih terasa relevan ketika didengarkan kembali di penghujung 2025, bahkan ketika sebagian kondisi justru terasa semakin memburuk.
Bagi Daniel Baskara, musik adalah hubungan antara “nyawa” dan “badan”, Baskara memulai dari apa yang ingin disampaikan, emosi, kegelisahan, dan pertanyaan, lalu membentuk tubuhnya lewat aransemen, produksi, mixing, dan mastering.

Pendekatan inilah yang membuat Hindia lentur secara musikal, tak terikat genre, namun konsisten dalam kekuatan cerita.
Sementara itu, kehadiran .Feast mempertegas sisi lain dari percakapan, dengan rekam jejak lagu-lagu yang kerap menyuarakan kritik sosial dan kegelisahan kolektif, Feast dikenal sebagai band yang tak ragu bersuara lantang, dalam format intim, lagu-lagu mereka justru terdengar lebih dekat dan menghantam, bukan lewat teriakan, melainkan kejujuran.
Di balik gemerlap prestasi, Daniel Baskara juga dikenal sebagai musisi yang terus memikirkan kondisi Indonesia yang kian hari terasa tidak baik-baik saja.

Dalam setiap wawancara dengan awak Media, Baskara selalu mengungkapkan bagaimana kegelisahan zaman menjadi bahan bakar utama dalam proses kreatifnya.
Bagi Baskara setiap proyek, baik Hindia, Feast, maupun Lomba Sihir, memiliki posisi dan pendekatan yang berbeda dalam ekosistem musik, meski kerap dianggap satu kesatuan, ketiganya lahir dari kebutuhan ekspresi yang berlainan.
Konser di Roots Bandung di kawasan Gudang Selatan ini diharapkan menjadi salah satu momen musik yang berkesan di awal 2026, terlihat Gebeg seorang drummer band cadas Taring dan Power Punk, ikut bersama sekitar 300 penonton menikmati alunan musik dari Feast dan Hindia. (RED)








