ARCOM-MEDIA, Bandung. Rapat Pimpinan (Rapim) Kodiklatad Tahun Anggaran 2026 digelar di Gedung Mohammad Toha, Makodiklatad, Jalan Aceh No. 50, Kota Bandung, Rabu (4/3/2026).
Forum strategis ini menjadi ruang komunikasi penting antar pimpinan jajaran Kodiklatad guna menyamakan persepsi, memperkuat arah kebijakan, serta memastikan kontribusi maksimal lembaga dalam membangun kualitas prajurit TNI AD yang profesional dan adaptif.
Dalam sambutannya, Dankodiklatad Letjen TNI Mohamad Hasan menegaskan, Rapim bukan sekadar agenda rutin tahunan, melainkan momentum krusial untuk melakukan evaluasi menyeluruh sekaligus merumuskan langkah-langkah strategis ke depan.
“Rapim ini harus mampu membawa kontribusi yang maksimal, setiap pimpinan harus memahami arah kebijakan organisasi, sehingga pelaksanaan program dan penggunaan anggaran benar-benar mendukung tugas pokok TNI AD,” tegas Dankodiklatad.
Melalui Rapim Kodiklatad, Dankodiklatad memberikan petunjuk dan arahan terkait program kerja dan anggaran Tahun 2026 agar setiap satuan pendidikan dan latihan mampu menjalankan tugas secara efektif, terukur, dan berdampak nyata terhadap kesiapan tempur TNI AD.
Dankodiklatad juga menyampaikan apresiasi atas kinerja seluruh jajaran sepanjang tahun anggaran sebelumnya.

Berbagai capaian di bidang pembinaan doktrin, pendidikan, dan latihan dinilai menunjukkan dedikasi serta profesionalisme tinggi dalam mendukung kesiapan operasional TNI AD.
Sebagai lembaga pengampu doktrin dan latihan, Kodiklatad memegang peran strategis dalam merumuskan, memperbarui, dan mengembangkan doktrin pertempuran.
Lembaga ini memastikan sistem pendidikan dan latihan senantiasa selaras dengan dinamika ancaman yang terus berkembang, baik konvensional maupun non-konvensional.
Rapim TA 2026 mengangkat dua fokus utama, yakni “Komunikasi Publik TNI di Era Kebebasan Informasi dan Media Sosial dalam Menghadapi Perang Kognitif” serta “Peran Strategis Kodiklatad Menghadapi Dinamika Perang Modern.”
Perubahan karakter peperangan menjadi bahasan mendalam, jika dahulu perang identik dengan kekuatan fisik di medan tempur, kini spektrumnya meluas ke ranah siber, informasi, hingga perang kognitif yang menyasar pola pikir dan opini publik.
Dankodiklatad menjelaskan narasumber pertama dalam Rapim Kodiklatad adalah Hasan Nasbi yang pernah memimpin Kantor Komunikasi Kepresidenan RI, “Hasan Nasbi memaparkan pentingnya membangun ketahanan kognitif dalam menghadapi disinformasi, fitnah, dan ujaran kebencian yang masif di ruang digital, Hasan Nasbi menekankan perang kognitif tidak kasatmata, tetapi dampaknya nyata terhadap stabilitas nasional dan kepercayaan publik,” ujarnya.

Seperti diketahui, tantangan terbesar di era kebebasan informasi adalah maraknya hoaks, oleh karena itu, strategi klarifikasi cepat dan counter-narrative melalui kanal resmi menjadi keharusan, informasi berbasis fakta lapangan diyakini mampu mencegah upaya adu domba yang dapat merusak kemanunggalan TNI dan rakyat.
Lebih lanjut Dankodiklatad menjelaskan narasumber kedua adalah Letjen (Purn) Nugroho Widyotomo yang mengulas dinamika perang modern yang sarat teknologi.
“Letjen (Purn) Nugroho Widyotomo menekankan pentingnya adaptasi doktrin dan sistem latihan agar mampu mengantisipasi pola konflik masa depan yang memanfaatkan kecerdasan buatan, drone, hingga gangguan elektronik,” ujar Dankodiklatad.
Menjawab berbagai tantangan, Kodiklatad menegaskan komitmennya untuk memodernisasi kurikulum pendidikan dan sistem latihan.
Prajurit tidak hanya dituntut mahir dalam pertempuran fisik, tetapi juga cakap mengoperasikan teknologi modern seperti drone, sistem digital, dan perangkat komunikasi canggih.
Dankodiklatad menjelaskan, pembaharuan doktrin bertempur menjadi keniscayaan, Kodiklatad saat ini tengah meramu doktrin pertempuran dan turunannya, termasuk sistem latihan dan pengembangan, selaras dengan revisi doktrin Kartika Eka Paksi, studi kasus berbagai konflik di dunia diadopsi dan disesuaikan dengan karakter serta kebutuhan TNI AD.
Untuk menjaga realisme latihan, sistem berbasis simulasi dan teknologi terus dikembangkan. Skenario latihan dirancang menyerupai kondisi medan tempur sebenarnya, termasuk menghadapi serangan drone dan gangguan siber. Pendekatan ini diharapkan membentuk prajurit yang adaptif, responsif, dan siap menghadapi berbagai kemungkinan di lapangan.

Menanggapi usulan terkait pendidikan khusus algoritma bagi TNI, Dankodiklatad menyatakan hal tersebut tengah dipertimbangkan secara serius.
“Di lingkungan Poltekad, telah diusulkan program studi Artificial Intelligence dan Cyber sebagai bagian dari penguatan kapasitas teknologi prajurit,” ungkap Dankodiklatad.
Menurut Dankodiklatad, dinamika algoritma menjadi fenomena global yang memengaruhi arus informasi dan opini publik, karena itu, pemahaman terhadap sistem digital dan kecerdasan buatan menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan institusi di era perang kognitif.
Rapim dihadiri seluruh unsur pimpinan dan Direktur Pusat Pendidikan (Pusdik) dan jajaran Kodiklatad, selain paparan dari narasumber, para Direktur mempresentasikan rencana dan program kerja Tahun 2026, sementara para Komandan Satuan memaparkan program unggulan masing-masing.
Melalui Rapim TA 2026, Dankodiklatad berharap seluruh jajaran menerima arahan dan hasil evaluasi secara terbuka serta menjadikannya pedoman dalam meningkatkan kualitas kinerja.
Sinergi antar pimpinan diharapkan semakin solid, sehingga Kodiklatad mampu menjalankan fungsinya sebagai motor penggerak pembinaan doktrin dan latihan TNI AD secara optimal.
Dengan peran strategisnya, Kodiklatad tidak hanya menjadi pusat pendidikan dan latihan, tetapi juga benteng utama dalam memastikan TNI AD selalu siap menghadapi dinamika perang modern, baik di medan tempur fisik maupun di ruang digital yang tak kasatmata. (BRH)









