ARCOM-MEDIA, Bandung. Pengelola Masjid Agung Bandung berencana melakukan rehabilitasi besar terhadap menara kembar yang menjadi salah satu ikon wisata religi di pusat Kota Bandung.
Perbaikan ini diperkirakan membutuhkan anggaran sekitar Rp.8 miliar agar fasilitas tersebut dapat kembali difungsikan dan aman digunakan oleh pengunjung.
Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung, Roedy Wiranatakusumah, S.H., M.H., MBA., mengungkapkan, menara kembar Masjid Agung Bandung sudah tidak beroperasi sejak masa pandemi pada tahun 2020.
Sejak saat itu, berbagai fasilitas di dalam menara mengalami penurunan kondisi sehingga memerlukan rehabilitasi menyeluruh sebelum kembali dibuka untuk publik.
Hal tersebut disampaikan Roedy Wiranatakusumah, di sela-sela pembukaan Masjid Agung Ramadan Festival 2026, Jumat, (6/3/2026), di Masjid Agung Bandung (MAB), jalan Dalem Kaum No. 14, Kota Bandung.
Menurut Roedy Wiranatakusumah, perbaikan tidak hanya menyasar satu bagian tertentu, melainkan mencakup berbagai aspek penting dari bangunan menara, mulai dari sistem lift, fasilitas interior, hingga struktur bagian luar menara yang selama beberapa tahun terakhir tidak lagi difungsikan.
“Lift, fasilitas di dalam menara, serta bagian luar bangunan perlu direhabilitasi agar kembali aman digunakan oleh pengunjung, untuk kedua menara tersebut, estimasi biaya perbaikan diperkirakan mencapai sekitar 8 miliar rupiah, ” ungkap Roedy Wiranatakusumah.
Menara kembar Masjid Agung Bandung selama ini dikenal sebagai salah satu daya tarik wisata religi sekaligus wisata kota.

Dari puncak menara, pengunjung dapat menikmati panorama Kota Bandung dari ketinggian yang menawarkan sudut pandang berbeda terhadap kawasan pusat kota, termasuk area Alun-alun Bandung yang selalu ramai dikunjungi masyarakat.
Sebelum pandemi, fasilitas menara kembar tersebut kerap menjadi tujuan wisata bagi masyarakat lokal maupun wisatawan dari luar daerah.
Bahkan, tidak sedikit wisatawan mancanegara yang tertarik menaiki menara untuk melihat lanskap Kota Bandung dari atas.
Roedy Wiranatakusumah menjelaskan, setiap menara mampu menampung sekitar 70 orang pengunjung dalam satu waktu, sehingga ketika beroperasi kembali, fasilitas tersebut diperkirakan akan kembali menjadi magnet bagi wisatawan yang datang ke Masjid Agung Bandung.
Selain menawarkan panorama kota, pengalaman naik ke puncak menara juga memberikan sensasi tersendiri, terutama bagi anak-anak dan keluarga yang ingin menikmati wisata edukatif sekaligus religi di pusat Kota Bandung.
“Melihat Kota Bandung dari atas menara kembar Masjid Agung Bandung akan menjadi pengalaman yang berharga dan berkesan, terutama untuk anak-anak dan keluarga,” ujar
Roedy Wiranatakusumah.
Rencana rehabilitasi ini diharapkan tidak hanya menghidupkan kembali salah satu fasilitas unggulan Masjid Agung Bandung, tetapi juga mendukung pengembangan wisata religi dan wisata kota di Bandung yang terus berkembang.
Dengan kembalinya operasional menara kembar nantinya, pengunjung tidak hanya dapat beribadah di Masjid Agung Bandung, tetapi juga menikmati pengalaman wisata yang memperlihatkan keindahan kota dari perspektif yang berbeda.
Pengelola masjid berharap dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun masyarakat, agar proses perbaikan dapat segera terealisasi sehingga menara kembar yang telah lama menjadi simbol kebanggaan Kota Bandung itu dapat kembali menyambut para pengunjung. (BRH)
.









