ARCOM-MEDIA, Bandung. Kota yang selalu menjadi muara bagi segala rasa, rindu, cinta, sejarah, dan kreativitas kembali diabadikan dalam sebuah karya literasi yang segar dan otentik.
Komunitas Blogger BDG merayakan usia satu dekade mereka dengan meluncurkan dan membedah buku kompilasi berjudul “BANDUNG: Kota Sejarah-Wisata-Renjana-Budaya-Kuliner”.
Buku yang diterbitkan oleh ITB Press setebal 136 halaman ini adalah wujud cinta dan apresiasi 23 anggota komunitas terhadap kota tempat mereka berdomisili dan berkarya.
Berbeda dengan karya lain, buku ini menyajikan mozaik Bandung melalui lensa personal para blogger, yang sebelumnya dipublikasikan di blog masing-masing.
Bandung, yang kerap dijuluki kota seribu wajah, benar-benar terekam dalam enam bab tematik yang disajikan dalam buku ini, Bandungku, Bandung Kota Sejarah, Bandung Kota Wisata, Bandung Kota Renjana, Bandung Kota Budaya, dan Bandung Kota Kuliner.
Bandungku, Bab pembuka ini adalah ruang personal bagi para penulis untuk menceritakan Bandung apa adanya, termasuk sebuah catatan istimewa dari Marquis Tokugawa, ilmuwan Jepang keturunan pendiri Shogun yang pernah mengunjungi Bandung pada tahun 1929.
Bandung Kota Sejarah, Para blogger mengajak pembaca menyusuri jejak masa lalu kota, dari megahnya Stasiun Bandung, kisah Mushala di pusat perbelanjaan, sejarah Jalan Ciateul dan Laswi Heritage, hingga geliat Pasar Cihapit.
Bandung Kota Wisata, Bab ini menyajikan beragam destinasi, mulai dari jalan-jalan ikonik, masjid bernuansa oriental, warisan Bosscha di Museum Geologi, hingga panorama Ciwidey.
Bandung Kota Renjana, Nuansa romantis dan pengalaman menginap menjadi fokus di sini, mencakup hotel berbintang lima hingga sensasi glamping di utara kota.
Bandung Kota Budaya, Pembaca diajak menyelami denyut budaya kota, seperti euforia Asia African Carnival, kekhasan kampung wisata Al-Qur’an, berbagai pameran, museum, dan tentu saja, sejarah legendaris Braga.
Bandung Kota Kuliner, Sebagai penutup yang menggugah selera, bab ini membahas hidangan khas seperti leunca, kesegaran Es Campur Pa’ Oyen, dan berbagai kuliner ikonik lainnya.
Acara bedah buku ini diselenggarakan Kamis, 20 November 2025, di lokasi yang sarat makna sejarah, House of Tjihapit, sekaligus menjadi rangkaian perayaan ulang tahun ke-10 Komunitas Blogger Bandung.
Menariknya, pemilihan House of Tjihapit ini adalah sebuah pengingat sejarah kelam. Kawasan Cihapit, yang dulunya bernama Bloemenkemp dan dikenal sebagai perumahan sehat bagi golongan menengah, pernah dijadikan kampung penjara (kamp interniran) oleh Jepang bagi sekitar 14 ribu orang Eropa, khususnya Belanda, selama masa penjajahan.
Bahkan, Pasar Cihapit di masa itu juga sempat dikenal sebagai istal kuda, tulisan mendalam tentang Pasar Cihapit dapat ditemukan di halaman 33 buku ini.
Diskusi buku yang dipandu Rahayu Andini dari Radio Raka ini menampilkan empat pembicara dari berbagai sudut pandang:
Abah Raka (Dosen Tel-U), yang mengupas Bosscha dari sudut pandang warga asli Bandung.
Nugi (Traveler), yang menyajikan perspektif orang luar Bandung tentang dunia perkeretaapian dan Stasiun Bandung.
Tian (Pengurus Blogger Bandung), yang berbagi kisah tentang Bus Bandros dari kacamata orang Bandung.
Bang Aswi (Penulis & Editor ITB Press), yang memberikan tinjauan dari sisi penerbitan.
Diskusi ini dipandu oleh Raja Lubis (Blogger, aktif di Forum Film Bandung, penulis artikel tentang Hotel Horison).
Meskipun buku ini tidak mencakup keseluruhan kompleksitas dan dinamika Bandung yang selalu berganti wajah, buku ini membuka ruang bagi siapa pun untuk mengisi celah tersebut.
Seperti diungkapkan Fiersa Besari dalam lirik lagunya, Bandung memiliki pesona abadi yang membuat siapa pun terpikat dan kembali.
Buku ini diharapkan tidak hanya menjadi rangkuman persahabatan dan cinta para blogger terhadap kotanya, tetapi juga menjadi pemantik bagi semua yang jatuh cinta pada Bandung untuk terus berkarya, baik dalam bentuk tulisan, musik, atau bentuk kreatif lainnya.
Bagi yang ingin memiliki buku ini, pemesanan dapat dilakukan melalui laman resmi ITB Press: https://www.itbpress.id/product/bandung-kota-sejarah-wisata-renjana-budaya-kuliner/
(BRH)









