ARCOM-MEDIA, Bandung. Memaknai kemerdekaan tidak cukup hanya dengan menggelar upacara, mengibarkan bendera, atau mengikuti perlombaan khas 17 Agustus.
Semangat kemerdekaan juga dapat diwujudkan melalui kepedulian terhadap masyarakat, pelestarian seni budaya, serta membangun ruang kreatif bagi generasi muda.
Pesan tersebut mengemuka dalam Syukuran dan Silaturahmi HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia yang digelar Jala Bhumi Kultura (JBK) dalam rangkaian Festival Cingised, Selasa, (18/8/2026), di Meditarium @rt Space, Jalan Cingised, Cisaranten Endah, Kecamatan Arcamanik, Kota Bandung.
Kegiatan tersebut menjadi ruang pertemuan masyarakat, seniman, budayawan, akademisi, serta sejumlah tokoh yang memiliki kepedulian terhadap persoalan sosial dan kebudayaan.
Hadir di antaranya Ketua Jala Bhumi Kultura Nizar Iskandar, seniman dan budayawan Hermana HMT, praktisi sekaligus akademisi Dr. Memet Hakim, anggota JBK Aendra Medita, seniman Yoyon Darsono, tokoh Jawa Barat Andri Perkasa Kantaprawira, Rita Roesman, serta Paskah Irianto.
Ketua JBK Nizar Iskandar mengatakan, kemerdekaan harus dimaknai lebih luas sebagai momentum untuk membangun kembali jati diri masyarakat melalui kebudayaan dan kepedulian sosial.
“Berbicara soal merdeka, bukan hanya sekadar kibarkan bendera dan balap kerupuk, lebih daripada itu, kita harus memiliki kembali jati diri, salah satunya melalui budaya,” tegas Nizar.
Menurut Nizar, Festival Cingised menjadi salah satu upaya JBK membangun ruang silaturahmi sekaligus membuka komunikasi antara masyarakat dengan seniman dan budayawan.

Jala Bhumi Kultura kata Nizar, ingin memulai gerakan tersebut dari lingkungan terdekat sebelum berkembang lebih luas.
Perhatian terhadap kelompok masyarakat rentan juga menjadi bagian dari kepedulian JBK.
Nizar menilai masyarakat yang memiliki keterbatasan akses pendidikan maupun ruang untuk membangun kepercayaan diri, termasuk mereka yang hidup di jalanan, membutuhkan pendampingan.
“Saya tidak membutuhkan validasi, saya melakukan itu karena memang saya peduli, saya berangkat dari hal yang terkecil,” ujar Nizar.
Nizar juga menyoroti keberadaan seni dan budaya tradisional yang dinilainya masih kerap ditempatkan di pinggiran.
Menurut Nizar, , kesenian seperti Sisingaan dan Jaipongan merupakan bagian penting dari identitas masyarakat Jawa Barat yang harus terus mendapatkan ruang dan regenerasi.
“Seniman dan budayawan juga perlu hidup, seni budaya ini ada kaitannya dengan kehidupan mereka,” kata Nizar.
Nizar menegaskan, perhatian terhadap kebudayaan tidak seharusnya hanya muncul ketika seni tradisional dibutuhkan untuk mengisi acara resmi.

Para pelaku seni membutuhkan ruang berkarya sekaligus keberlanjutan kehidupan agar kesenian tradisional tidak berhenti pada generasi tertentu.
Karena itu, JBK berencana memperluas ruang bagi anak-anak untuk mengenal seni dan berbagai aktivitas kreatif.
Upaya tersebut dinilai semakin penting di tengah tingginya penggunaan gawai di kalangan anak-anak dan remaja.
Nizar mengatakan, kegiatan seni dapat menjadi alternatif aktivitas positif sehingga anak-anak tidak menghabiskan sebagian besar waktunya dengan gawai.
“Sasaran kami adalah anak-anak, selain memberikan pendidikan, kami ingin mereka terhindar dari kegiatan yang tidak bermanfaat dan lebih fokus kepada kegiatan yang positif,” tegas Nizar.
Salah satu bentuk ekspresi seni yang ditampilkan dalam kegiatan tersebut adalah pantomim.
Bagi Nizar, pantomim menunjukkan bahwa anak-anak dapat mengekspresikan gagasan dan kreativitas melalui seni tanpa selalu bergantung pada komunikasi verbal.
Sorotan terhadap penggunaan gawai juga disampaikan seniman dan budayawan Hermana HMT melalui monolognya.

Hermana mengakui teknologi memberikan banyak manfaat, termasuk dalam komunikasi dan perkembangan teknologi kecerdasan buatan.
Namun, Hermana mengingatkan penggunaan gawai secara berlebihan dan tidak terkendali dapat menimbulkan persoalan, terutama bagi generasi muda.
“Gadget berguna untuk komunikasi, bahkan sekarang ada program AI, tetapi kalau penggunaannya tidak tepat, kita harus waspada terhadap dampaknya kepada generasi kita,” ungkap Hermana.
Hermana juga menyampaikan kekhawatirannya terhadap anak-anak yang terlalu lama menggunakan gawai.
Hermana mengajak orang tua dan lingkungan masyarakat lebih aktif memberikan alternatif kegiatan yang bersifat kreatif, edukatif, dan membangun interaksi sosial.
Praktisi dan akademisi Dr. Memet Hakim mengapresiasi gerakan JBK yang menurutnya berangkat dari kepedulian terhadap lingkungan sekitar.
Memet menilai kepedulian terhadap bangsa tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan besar, justru, gerakan yang dimulai dari lingkungan terdekat dapat memberikan dampak nyata apabila dilakukan secara konsisten.
Menurut Memet, kegiatan seni dan kebudayaan juga dapat menjadi sarana untuk membangun kembali karakter masyarakat sekaligus memperkuat hubungan sosial.

“Ketulusan dalam menjalankan kegiatan sosial dan budaya menjadi hal penting dalam mengisi kemerdekaan,” ujar Memet.
Sementara itu, rangkaian peringatan kemerdekaan di Cingised turut diisi upacara, berbagai perlombaan yang melibatkan anak-anak hingga orang dewasa, serta pertunjukan seni dan budaya.
Lomba makan kerupuk, balap karung, balap kelereng, memasukkan pensil ke dalam botol, hingga tarik tambang menjadi bagian dari kemeriahan warga.
Namun, bagi JBK, kemeriahan tersebut bukan tujuan akhir, kegiatan tersebut diharapkan menjadi jembatan untuk memperkuat komunikasi antarmasyarakat sekaligus membuka ruang bagi seniman dan budayawan agar kembali hadir di tengah kehidupan warga.
JBK juga berencana mengembangkan berbagai kegiatan budaya dengan mengangkat kesenian lokal, termasuk Sisingaan dan Jaipongan.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya menjaga kesenian tradisional tetap hidup, tetapi juga memperkenalkannya kepada generasi muda agar memiliki keterikatan dengan budaya daerahnya.
Bagi JBK, kemerdekaan pada akhirnya bukan sekadar perayaan tahunan, kemerdekaan harus diisi dengan keberanian merawat budaya, membangun kepedulian sosial, menciptakan ruang kreatif bagi anak-anak, serta memastikan perkembangan teknologi tetap berjalan seimbang dengan tumbuhnya karakter dan kehidupan sosial masyarakat. (RED)








