ARCOM-MEDIA, Bandung. Badan Narkotika Nasional Provinsi Jawa Barat (BNNP Jabar) memilih pendekatan budaya Sunda sebagai salah satu strategi untuk memperkuat kampanye pencegahan penyalahgunaan narkotika di kalangan generasi muda.
Pesan antinarkoba itu dikemas melalui Pasanggiri Agung Kawih Sinom yang digelar di Gedung Pusat Budaya Jawa Barat, Jalan Naripan, Kota Bandung, Senin, (14/9/2026), turut hadir Pimpinan Kawargian Abah Alam, Adhitiya Alam Syah atau biasa disapa Abah Alam, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Provinsi Jawa Barat, Drs. Wahyu Mijaya, S.H., M.Si., dan perwakilan Kodam III/Siliwangi.
Kepala BNNP Jabar, Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono, mengatakan, pemilihan Kawih Sinom bukan tanpa alasan, dalam tradisi Sunda, sinom memiliki keterkaitan erat dengan kaum muda sekaligus menjadi media penyampaian nasihat dari orang tua kepada anak.
“Sinom itu artinya yang muda. Jadi ini nasihat kepada anak-anak, remaja, dan pemuda agar jauh dari narkotika,” ujar Kepala BNNP Jabar.
Menurut Kepala BNNP Jabar, pendekatan melalui seni dan budaya diharapkan mampu membuat pesan pencegahan narkoba lebih mudah diterima generasi muda.

Nilai-nilai yang terkandung dalam budaya lokal juga dinilai dapat menjadi bagian dari upaya membangun ketahanan diri sejak usia dini.
BNNP Jabar berharap edukasi tersebut dapat menjangkau pelajar mulai tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah atas, sehingga kesadaran untuk menolak narkotika tumbuh sebelum mereka berhadapan dengan ancaman penyalahgunaan narkoba.
Kepala BNNP Jabar menegaskan, persoalan narkoba di Jawa Barat masih membutuhkan perhatian serius, berdasarkan data BNNP Jabar, penyalahgunaan zat terlarang didominasi obat-obatan keras ilegal sebesar 44 persen dan narkotika sebesar 44 persen. Sementara 12 persen lainnya merupakan zat adiktif.
Pengungkapan kasus di sejumlah daerah, di antaranya Palabuhanratu, Pangandaran, Cimahi, Bogor, dan Sumedang, menjadi gambaran bahwa jaringan peredaran narkoba masih menjadi ancaman di berbagai wilayah Jawa Barat.
Bahkan, pada 2025 Jawa Barat sempat masuk dalam lima besar wilayah yang menjadi pusat peredaran narkoba secara nasional.

Kondisi tersebut membuat upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan melalui penindakan hukum, edukasi dan penguatan ketahanan masyarakat, khususnya generasi muda, juga menjadi bagian penting dalam memutus mata rantai penyalahgunaan narkotika.
Sekretaris Utama BNN RI, Irjen Pol. Tantan Sulistyana, di tempat yang sama mengungkapkan kekhawatiran terhadap meningkatnya penyalahgunaan narkotika pada kelompok usia muda secara nasional.
Menurut Tantan, angka penyalahgunaan narkotika pada kelompok usia 15–24 tahun meningkat menjadi sekitar 2,53 persen, dari sebelumnya sekitar 1,8 persen.
Salah satu yang menjadi perhatian adalah pemanfaatan perangkat rokok elektrik atau vape, cairan yang mengandung zat narkotika berpotensi disamarkan dalam perangkat tersebut sehingga semakin sulit dikenali masyarakat.

Karena itu, Tantan mengapresiasi langkah BNNP Jabar yang menggunakan seni dan budaya sebagai sarana menyampaikan pesan antinarkotika.
Pasanggiri Agung Kawih Sinom tersebut tidak hanya menjadi ruang ekspresi seni, tetapi juga ajang kompetisi yang memperebutkan Piala Gubernur Jawa Barat.
Pada Kategori Pelajar, Muhammad Rafi Putra Pangestu berhasil meraih juara pertama. Posisi kedua ditempati Asep Tatang Hidayat, sedangkan Griselda Martatila Putri berada di peringkat ketiga.
Sementara pada Kategori Umum, juara pertama diraih Wendy Widya Rahayu, disusul Eva Purnama Dewi sebagai juara kedua dan Destiana Erlinda Dewi sebagai juara ketiga.
Trofi penghargaan kepada para juara diserahkan oleh Kepala BNNP Jabar Brigjen Pol. Sulistyo Pudjo Hartono bersama Wali Kota Bandung Muhammad Farhan. (RED)








