ARCOM-MEDIA, Bandung. Dalam rangka menanamkan nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, Singer pada remaja dan sinergi orang tua dan sekolah, SMAN 9 Bandung menggelar kegiatan Parenting dan Sosialisasi Program Sekolah, Sabtu, (22/8/2026), di Lokasanga, SMA Negeri 9 Bandung, jalan Suparmin No.1A, Kota Bandung.
Kegiatan tersebut menjadi ruang kolaborasi antara sekolah, orang tua, dan tenaga profesional untuk memperkuat pola pengasuhan sekaligus membangun karakter peserta didik agar tumbuh menjadi generasi yang sehat, berintegritas, cerdas, terampil, dan adaptif terhadap perubahan zaman.
Seminar yang diikuti ratusan orang tua siswa serta jajaran guru SMAN 9 Bandung itu menghadirkan psikolog Ulfah Trijayanti, M.Psi., sebagai narasumber.
Dalam pemaparannya, Ulfah mengajak para orang tua mengubah sudut pandang dalam mendampingi anak, menurutnya, pengasuhan tidak cukup hanya berfokus pada persoalan atau perilaku bermasalah yang muncul, tetapi harus dimulai dari pemahaman terhadap identitas, potensi, serta kebutuhan anak.
“Jangan hanya bertanya: Apa masalah anak saya? Mari mulai dengan: Siapa anak saya, apa potensinya, dan apa yang ia butuhkan untuk bertumbuh?” tegas Ulfah.
Menurut Ulfah, kehidupan remaja pada 2026 tidak dapat dilepaskan dari ekosistem digital. Media sosial, teknologi AI, tuntutan prestasi, pencarian identitas, serta dinamika hubungan sosial menjadi bagian dari keseharian yang turut membentuk pola pikir dan perilaku mereka.
Karena itu, pendekatan terhadap anak dan remaja perlu dilakukan secara lebih komprehensif. Orang tua tidak cukup hanya memperdebatkan lamanya anak menggunakan gawai atau membatasi screen time.
Hal yang tidak kalah penting adalah memahami untuk apa teknologi digunakan, bagaimana keamanan anak di ruang digital, kualitas tidur, hubungan sosial, hingga kemampuan anak dalam mengatur dirinya sendiri.
Dalam seminar tersebut juga dipaparkan sejumlah data mengenai kehidupan anak dan remaja di ruang digital, termasuk tingginya intensitas penggunaan internet, pengalaman negatif di dunia maya, serta semakin cepatnya adopsi teknologi AI dalam aktivitas belajar.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa literasi digital dan pendampingan orang tua menjadi semakin penting, anak perlu dibekali kemampuan untuk berpikir kritis, memverifikasi informasi, menjaga privasi, serta memahami konsekuensi dari setiap aktivitasnya di dunia digital.
Salah satu fokus utama seminar adalah penguatan nilai Gapura Pancawaluya, yang terdiri atas Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer.
Kelima nilai tersebut tidak hanya dipahami sebagai konsep, tetapi diterjemahkan menjadi perilaku yang dapat dilatih secara konsisten di lingkungan keluarga maupun sekolah.
Cageur dimaknai sebagai pribadi yang sehat dan mampu mengelola diri, termasuk menjaga pola tidur, kesehatan tubuh, serta kemampuan mengendalikan emosi.
Bageur menekankan sikap empati, kepedulian, kesantunan, penghormatan terhadap orang lain, serta membangun lingkungan yang menolak praktik perundungan (bullying).
Bener berkaitan dengan integritas, kejujuran, tanggung jawab, kemampuan menepati janji, dan keberanian mengakui kesalahan.
Sementara Pinter diarahkan pada kemampuan berpikir kritis, belajar secara mandiri, memiliki literasi yang baik, serta mampu memeriksa dan memverifikasi kebenaran informasi.

Adapun Singer menggambarkan pribadi yang terampil, komunikatif, cekatan, adaptif, dan mampu menerjemahkan pengetahuan menjadi tindakan nyata.
Kelima nilai tersebut dinilai relevan untuk menjadi fondasi karakter remaja di tengah perubahan sosial dan teknologi yang berlangsung cepat.
Seminar juga menekankan pentingnya keselarasan pola pengasuhan antara keluarga dan sekolah. Orang tua dan guru diharapkan tidak berjalan sendiri-sendiri dalam membentuk karakter siswa.
Untuk itu, peserta diperkenalkan dengan Model 3C, yakni Congruence, Consistency, dan Communication.
Congruence atau keselarasan berarti nilai yang ditanamkan di rumah sejalan dengan pembiasaan yang dilakukan di sekolah.
Consistency atau konsistensi menekankan pentingnya aturan dan konsekuensi yang diterapkan secara jelas serta tidak berubah-ubah.
Sedangkan Communication atau komunikasi mengharuskan orang tua dan sekolah membangun komunikasi secara proaktif sehingga berbagai persoalan dapat diketahui dan ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.
Selain itu, peserta mendapatkan sejumlah strategi praktis, antara lain penerapan “10 Minutes No Lecture”, yakni menyediakan waktu sekitar 10 menit setiap hari untuk benar-benar mendengarkan anak tanpa ceramah maupun interogasi.
Orang tua juga didorong untuk melakukan validasi terhadap emosi anak sebelum menetapkan batasan perilaku, pendekatan tersebut diharapkan membuat anak merasa didengar dan dipahami tanpa menghilangkan fungsi orang tua dalam memberikan arahan dan batasan.
Gagasan lain yang diperkenalkan adalah Family-School Character Contract, sebuah kesepakatan nilai dan perilaku antara keluarga dan sekolah yang dapat dievaluasi secara berkala.
Seminar Parenting 2026 SMAN 9 Bandung menjadi momentum untuk memperkuat kesadaran bahwa pendidikan karakter bukan hanya tanggung jawab sekolah.
Keluarga sebagai lingkungan pendidikan pertama memiliki peran penting dalam membangun kebiasaan, nilai, dan kemampuan regulasi diri anak. Sementara sekolah berperan memperkuat nilai tersebut melalui proses pendidikan, pembelajaran, dan lingkungan sosial yang positif.
Kolaborasi keduanya semakin penting di tengah perkembangan teknologi yang membuat anak dan remaja memiliki akses luas terhadap informasi dan berbagai pengaruh dari luar lingkungan keluarga.
Melalui seminar tersebut, pihak SMAN 9 Bandung berharap para orang tua dan pendidik dapat menjadi figur dewasa yang hadir, konsisten, terbuka untuk belajar, sekaligus mampu mendampingi remaja menghadapi perubahan zaman.
Dengan penguatan nilai Cageur, Bageur, Bener, Pinter, dan Singer, pendidikan diharapkan tidak berhenti pada pencapaian akademik, tetapi juga mampu melahirkan generasi yang memiliki jati diri kuat, berkarakter, cakap menghadapi tantangan digital, serta siap berkontribusi secara positif bagi masyarakat.
Kegiatan Parenting dan Sosialisasi Program Sekolah, dihadiri Kepala Sekolah SMAN 9 Bandung, Agus Hasan Sadzili, S.Pd., dan para Wakil Kepala Sekolah SMAN 9 Bandung. (RED)









