ARCOM-MEDIA, Bandung. Nyindir adalah ilmu komunikasi tingkat tinggi yang tidak diajarkan di fakultas mana pun, tetapi dikuasai oleh hampir semua orang sejak mulai bisa membedakan antara “tidak apa-apa” dan “tidak apa-apa, tapi nanti akan saya tuntut di akhirat.”
Nyindir bukan sekadar berbicara. Ia adalah seni melempar batu dengan bunga. Batunya tidak terlihat, bunganya harum, tetapi kepala yang terkena biasanya langsung merasa ada meteor kecil mendarat di ubun-ubunnya.
Di kampung-kampung, kantor-kantor, grup WhatsApp keluarga, bahkan rapat resmi yang kopinya lebih jujur daripada notulennya, nyindir telah menjadi bagian dari kebudayaan manusia. Ia hidup di antara senyum yang terlalu rapi, tawa yang terlalu pendek, dan kalimat-kalimat yang abu-abu.
Orang yang menyindir bisa jadi tidak menyebut nama orang yang disindirnya, tetapi banyak orang tahu kepada siapa sindiran itu diarahkan. Nyindir semacam diplomasi orang terluka, surat resmi tanpa kop, tetapi jelas ditujukan kepada departemen perasaan tertentu.
Sindiran adalah kritik yang memakai sarung, duduk bersila, lalu berkata pelan, “Silakan pikir dan tebak sendiri.”
Anehnya, banyak orang suka menyindir, tetapi tidak suka disindir. Kita merasa sindiran kita adalah hikmah, sedangkan sindiran orang lain adalah fitnah. Ketika kita menulis, “Ada orang makin tua makin tidak tahu diri,” kita menyebutnya renungan. Namun ketika orang lain menulis, “Ada orang kalau menulis status suka merasa nabi kecil,” kita langsung merasa sasaran tembaknya adalah kita.
Di media sosial, nyindir sudah naik kelas menjadi industri kreatif. Orang-orang membuat status semacam ranjau. Kalimatnya pendek, tetapi ledakannya bisa menggelegar.
Hal yang sedikit ajaib, ternyata yang suka menyindir bukan hanya rakyat, tetapi juga pemimpin. Padahal pemimpin itu suaranya bisa meninggalkan jejak sejarah, batuknya menjadi breaking news, dan senyumnya bisa ditafsirkan pasar.
Karena itu, ketika seorang pemimpin menyindir, sindiran itu tidak lagi berjalan kaki. Ia naik mobil dinas, dikawal voorijder, lalu masuk ke relung hati secara masif.
Misalnya, ketika sang pemimpin berkata, “Ada pihak-pihak yang tidak suka perubahan,” maka mendadak lahirlah para ahli tafsir. Bawahan menunduk, rakyat menduga-duga, wartawan mengejar, buzzer memelintir, pengamat masuk televisi, akademisi membuat makalah, oposisi merasa ditampar angin, relawan bertepuk tangan, sementara ada rakyat kecil yang bingung sambil bertanya, “Pihak-pihak itu siapa? Apakah termasuk PKL yang suka menutup trotoar?”
Di sisi lain, ada pula yang merasa disindir lalu menulis sindiran balik: “Semoga semua pemimpin diberi hati yang lapang…”
Di tangan orang biasa, nyindir adalah luka kecil yang dibungkus humor. Di tangan pemimpin, nyindir bisa menjadi kebijakan setengah matang. Walaupun bukan keputusan, getarannya bisa terasa sampai ke seluruh pelosok.
Pemimpin yang suka menyindir biasanya tampak seperti sedang bercanda, padahal mungkin sedang mengirim rudal semantik. Sindiran pemimpin sering diperlakukan seperti wahyu administratif. Para bawahannya segera menerjemahkan. Ada yang menafsirkan secara politik, anggaran, bahkan mistik.
Padahal sang pemimpin sendiri mungkin hanya sedang kesal karena mikrofonnya kurang keras atau menu makan di perhelatan tersebut kurang cocok di lidah.
Begitulah kekuasaan. Kalau rakyat menyindir disebut nyinyir, tetapi kalau pemimpin yang menyindir bisa dianggap arahan strategis.
Bisa juga pemimpin yang suka menyindir itu sedang menunjukkan bahwa jabatan pun bisa baper. Di balik jas resmi dan pidato, ada hati yang ingin berkata, “Saya kesal.” Namun karena gengsi dan wibawa, dipilihlah kalimat yang melingkar.
Yang seharusnya diketahui para pemimpin, sindiran dari kursi kekuasaan sering kali tidak dimaknai sekadar sindiran. Ia bisa menjadi tekanan menakutkan yang membuat orang-orang merasa langit sedang melirik dengan alis terangkat.
Karena itu, wahai para pemimpin yang doyan menyindir, berbicaralah lebih terang. Jangan biarkan orang-orang yang sudah ruwet dengan kehidupan sehari-hari diberi tugas tambahan mengisi teka-teki silang.
Nyindir adalah seni yang menunjukkan bahwa manusia belum sepenuhnya berani jujur, namun juga belum sepenuhnya rela diam. Nyindir tak ubahnya seperti suara hati yang kepanasan, tetapi masih ingin terlihat memakai jas hujan.
Hihihihihh!
Bandung, 12/5/2026
(Ganjar Kurnia)
* Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA., adalah Rektor ke-10 Universitas Padjadjaran (Unpad) yang menjabat selama dua periode, dari 2007 hingga 2015









