ARCOM-MEDIA, Bandung. Dunia perfilman Indonesia kembali diguncang oleh film horor komedi penuh teror berjudul Ghost in the Cell, karya sutradara ternama Joko Anwar.
Film yang memadukan unsur horor, thriller, komedi gelap, dan kritik sosial ini sukses membuat penonton menahan napas sepanjang cerita.
Bioskop-bioskop di berbagai kota di Indonesia hingga saat ini dikabarkan dipenuhi penonton yang penasaran dengan film Ghost in the Cell yang mengisahkan seorang wartawan yang tanpa sadar membawa hantu pembunuh masuk ke dalam penjara.
Hingga hari ke-25 penayangan, Kamis, (14/5/2026), Film Ghost in the Cell telah ditonton lebih dari 3.128.594 penonton dan menjadi salah satu film horor komedi di Indonesia yang paling fenomenal di tahun 2026.
Film dibuka dengan tampilan seorang wartawan muda bernama Dimas, yang diperankan Endy Arfian, tengah membuat berita investigasi kasus pembalakan liar di Kalimantan yang menewaskan sepuluh pekerja secara misterius, Dimas menemukan berbagai kejanggalan di lokasi kejadian saat ia melakukan investigasi.
Namun teror sesungguhnya dimulai ketika hasil investigasi tersebut dibawa ke kantor medianya.
Bos media tempat Dimas bekerja, Endy, yang diperankan Rio Dewanto, justru murka dan menolak tulisan investigasi itu, dalam kondisi frustrasi karena perusahaan medianya hampir bangkrut, Endy meminta Dimas mengganti berita tersebut menjadi isu politis yang menyeret Pengusaha Nasional dan Wakil Presiden.
Tak lama setelah pertengkaran itu, suasana kantor berubah menjadi mimpi buruk, sosok hantu pembunuh tiba-tiba muncul dan mencabik-cabik tubuh Endy secara brutal sebelum menggantung mayatnya di kipas angin.
Naas, Dimas yang masuk ke ruangan setelah kejadian itu langsung dituduh sebagai pembunuh dan tanpa banyak penyelidikan dijebloskan ke penjara. Di sanalah mimpi buruk yang sebenarnya dimulai.
Penjara dalam Ghost in the Cell digambarkan sebagai tempat penuh kekerasan, korupsi, dan kebusukan moral. Kepala Sipir bernama Jefri, yang diperankan Bront Palarae, tampil sadis dan brutal terhadap para tahanan.
Salah satu penghuni penjara paling unik adalah Six, diperankan Yoga Pratama, seorang tahanan yang memiliki indera keenam dan mampu melihat aura kematian.
Ketegangan semakin liar ketika tahanan bernama Tokek, diperankan Aming , mencoba melecehkan Dimas di kamar mandi penjara.
Namun adegan itu berubah menjadi salah satu scene paling sadis ketika hantu pembunuh datang dan menusuk kedua mata Tokek menggunakan besi tajam kamar mandi.
Adegan demi adegan pembantaian kemudian hadir tanpa ampun, mulai dari koki penjara Anton yang diperankan Tora Sudiro yang dicincang dan disiram air panas, hingga penari Novilham (Magistus Miftah), yang tubuhnya dilipat seperti boneka rusak.
Film ini juga dipenuhi konflik antar geng tahanan. Anggoro, yang diperankan Abimana Aryasatya, menjadi tokoh sentral yang perlahan menyadari bahwa seluruh teror tersebut berkaitan dengan Dimas sang Wartawan.
Sementara itu, mafia narkoba Rendra, yang diperankan Ho Yuhang, justru ingin membunuh Dimas karena menganggap wartawan tersebut membawa kutukan ke dalam penjara.
Salah satu adegan paling ikonik dalam film terjadi ketika Kepala Sipir Jefri sedang memukuli Anggoro, tiba-tiba, hantu pembunuh mengangkat tubuh Jefri ke langit-langit penjara sebelum mencabik-cabiknya hingga tubuhnya berubah menyerupai karya seni mengerikan.
Namun di balik seluruh teror berdarah itu, Ghost in the Cell ternyata menyimpan kritik sosial yang tajam.
Film ini memperlihatkan bagaimana seorang koruptor bernama Prakasa, yang diperankan , Arswendy Beningswara hidup mewah di dalam penjara berkat bantuan Kepala Lapas korup bernama Sapto yang diperankan Kiki Narendra.
Penonton kemudian dibuat tegang ketika Six mengungkap fakta mengejutkan: hantu pembunuh sebenarnya sedang memburu seseorang di dalam penjara, sementara para tahanan lain hanyalah korban salah sasaran.
Puncak cerita terjadi ketika kelompok Anggoro berhasil memancing emosi Prakasa lewat sambungan telepon palsu.
Sosok hantu yang ternyata merupakan manifestasi Prakasa muda datang dan mengeksekusi Prakasa tua dengan sangat brutal.
Kepala Prakasa dipenggal, sementara tubuhnya dibentuk menyerupai Dewi Keadilan, simbol bahwa dosa korupsi pada akhirnya akan diadili dengan cara paling mengerikan.
Film ditutup dengan penangkapan Kepala Lapas Sapto oleh sipir-sipir anti korupsi setelah rencananya membakar tahanan Blok C gagal total, di sisi lain, Dimas akhirnya dibebaskan karena terbukti tidak bersalah.
Dalam ending yang emosional sekaligus menyeramkan, hantu pembunuh perlahan meninggalkan tubuh Dimas, menandakan bahwa kutukan berdarah itu akhirnya berakhir.
Dengan kombinasi horor brutal, komedi gelap, kritik sosial, dan misteri supranatural yang intens, Ghost in the Cell menjadi salah satu film paling berani tahun 2026 ini.
Film Ghost in the Cell bukan sekadar menyajikan jumpscare dan darah, tetapi juga menyindir keras korupsi, manipulasi media, dan bobroknya sistem kekuasaan yang masih menghantui negeri ini. (RED)








