ARCOM-MEDIA, Bandung. Suasana hangat, religius, dan penuh kebersamaan terasa kental di pada Kamis, (19/2/2026), di Masjid Agung Bandung (MAB), jalan Dalem Kaum No. 14, Kota Bandung.
Ratusan jemaah memadati masjid kebanggaan warga Kota Kembang itu dalam rangkaian Safari Ramadan yang dipimpin langsung oleh Walikota Bandung Muhammad Farhan
Momentum tersebut bukan sekadar agenda seremonial, Walikota membawa misi besar, mengembalikan Masjid Agung Bandung sebagai pusat peradaban kota, ruang ibadah, ruang sosial, sekaligus ruang pemersatu warga Bandung.
Awalnya, kegiatan Ramadan Pemerintah Kota Bandung direncanakan terpusat di Pendopo, namun Walikota mengambil keputusan berbeda, memindahkan pusat kegiatan ke Masjid Agung Bandung.
“Kenapa harus di Pendopo kalau kita punya Masjid Agung Bandung?, inilah saatnya kita menunjukkan tekad bersama untuk memakmurkan Masjid kebanggaan Kota Bandung,” ujar Walikota di hadapan para jemaah.
Keputusan tersebut bukan tanpa makna, Masjid Agung Bandung berkapasitas sekitar 12.000 jemaah itu bukan hanya bangunan fisik, melainkan simbol sejarah, identitas, dan denyut kehidupan Kota Bandung.
Walikota bahkan bernostalgia, mengenang masa kecilnya saat diajak sang ayah menunaikan salat Jumat di Masjid Agung Bandung, lalu bermain di Alun-Alun Bandung.

“Saya yakin kenangan seperti itu bukan hanya milik saya, Masjid Agung Bandung punya nilai sejarah yang luar biasa bagi warga Bandung,” ujar Walikota dengan nada haru.
Dalam kesempatan itu, Walikota membagikan pesan dari gurunya, KH Athian Ali, tentang makna sejati membangun rumah di surga, pesan tersebut sederhana namun mendalam, bukan hanya membangun fisik masjid, tetapi memakmurkannya.
Membersihkan masjid, meramaikan masjid, menghidupkan kajian, serta menjadikan masjid sebagai pusat silaturahmi, itulah wujud nyata ibadah yang berdampak dalam kehidupan sosial.
“Ketika kita memakmurkan Masjid Agung Bandung ini, sesungguhnya kita sedang membangun rumah kita masing-masing di surga,” ujar Walikota.
Pesan itu menjadi refleksi bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas tahunan, melainkan momentum membangun karakter kolektif masyarakat.
Langkah konkret yang diambil Farhan adalah mengundang warga dari 30 kecamatan di Kota Bandung untuk buka puasa bersama secara bergilir di Masjid Agung Bandung, setiap hari, satu kecamatan mendapat kesempatan hadir dan berkumpul.
Strategi ini bukan hanya mempererat ukhuwah islamiyyah, tetapi juga membuka ruang dialog langsung antara pemerintah dan warga, masjid menjadi titik temu yang menyatukan berbagai latar belakang sosial, ekonomi, dan profesi.

“Mau saya Walikota atau bahkan Presiden sekalipun, kalau menjadi makmum tetap berdiri sejajar di belakang imam, tidak ada saf khusus karena jabatan,” ujar Walikota.
Pesan itu menegaskan fungsi masjid sebagai ruang tanpa sekat sosial, tempat di mana hierarki jabatan luluh oleh nilai kesetaraan.
Sejak hari pertama menjabat yang bertepatan dengan awal Ramadan, Walikota berkomitmen turun langsung ke lapangan, dari total 151 kelurahan di Kota Bandung, Walikota telah mengunjungi 81 kelurahan dan menargetkan menuntaskan seluruhnya.
Pendekatan ini memperlihatkan model kepemimpinan yang tidak berjarak, Safari Ramadan bukan sekadar agenda keagamaan, tetapi juga sarana mendengar aspirasi warga secara langsung.
Dengan menjadikan Masjid Agung Bandung sebagai pusat kegiatan, Walikota ingin memastikan fungsi ibadah dan fungsi ruang publik berjalan beriringan.
Selain menekankan aspek spiritual dan sosial, Walikota juga menyoroti pentingnya disiplin selama Ramadan, Pemerintah Kota Bandung menyesuaikan jam kerja aparatur hingga maksimal pukul 16.00 WIB.
“Jam kerja maksimal sampai pukul 16.00 WIB agar ada waktu mempersiapkan buka puasa bersama keluarga, ini bukan mengurangi kerja, tapi menambah nilai ibadah dan kebersamaan,” ujar Walikota.
Walikota juga membagikan rutinitas pribadinya bangun pukul 03.00 WIB untuk sahur dan menjaga pola tidur teratur, menurutnya, disiplin 30 hari Ramadan dapat memperbaiki metabolisme tubuh sekaligus memperkuat kesehatan mental dan spiritual.
“Disiplin selama satu bulan dalam setahun ini Insha Allah memperbaiki metabolisme tubuh kita menjadi lebih ringan dan memberikan dampak kesehatan yang sangat baik,” pungkas Walikota.

Seperti diketahui saat ini, Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung, adalah Roedy Wiranatakusumah, S.H., M.H., MBA., atau yang akrab disapa Aom Roedy.
“Strategi memusatkan kegiatan Ramadan di Masjid Agung Bandung bukan sekadar pemindahan lokasi acara, ini adalah pesan simbolik, bahwa kota yang kuat dibangun dari pusat spiritual yang hidup,” ujar Roedy Wiranatakusumah yang juga merupakan Lawyer kelas dunia, dan Guru Besar Pencak Silat.
“Melalui buka puasa bersama 30 kecamatan, kunjungan ke 151 kelurahan, penegasan kesetaraan di dalam masjid, hingga disiplin kerja dan keluarga, Walikota mencoba merangkai Ramadan sebagai energi peradaban,” pungkas Roedy Wiranatakusumah.
Masjid Agung Bandung akhirnya kembali menjadi jantung kota, dan di sanalah kebersamaan warga kota Bandung dipererat, bukan oleh jabatan, bukan oleh protokol, tetapi oleh saf yang sejajar dan doa yang sama. (BRH)









