ARCOM-MEDIA, Bandung. Sosok budayawan multitalenta Jaya Suprana kembali menjadi sorotan melalui peluncuran buku biografi kultural berjudul Sang Penggagas, karya penulis Aendra Medita, di Universitas Padjadjaran (Unpad), jalan Dipatiukur, Kota Bandung, Kamis (5/11/2026).
Peluncuran buku yang dibalut bedah buku dan diskusi panel tersebut dihadiri kalangan akademisi, mahasiswa, dan pemerhati budaya, menghadirkan perspektif menarik tentang perjalanan intelektual, kreativitas, serta kontribusi Jaya Suprana dalam mewarnai kebudayaan Indonesia.
Salah satu momen paling menarik dalam kegiatan tersebut adalah pernyataan pakar semiotika Institut Teknologi Bandung (ITB), Prof. Acep Iwan Saidi, yang secara akademis menyebut Jaya Suprana sebagai “Sang Postmodernis Sejati”.
Hadir sebagai narasumber utama, Prof. Acep Iwan Saidi bersama Aendra Medita membedah sosok Jaya Suprana melalui diskusi mendalam, mulai dari perspektif semiotika budaya, karakter personal, hingga proses kreatif yang melahirkan berbagai gagasan dan karya fenomenal, turut hadir mantan Rektor Unpad, Prof. Dr. Ir. Ganjar Kurnia, DEA.
Dalam paparannya, Prof. Acep menilai Jaya Suprana merupakan figur dengan karakter yang tidak lazim dibandingkan kebanyakan tokoh publik di Indonesia.

Keunikan tersebut justru menjadi kekuatan yang membentuk identitas dan posisi tersendiri dalam lanskap kebudayaan nasional.
“Jaya Suprana itu menurut saya seorang tokoh yang berbeda: nyeleneh, humoris, karyanya banyak, dan seterusnya. Dia menjadi satu model tertentu di dalam kebudayaan Indonesia, makanya, saya sebut Jaya Suprana itu sang postmodernis sejati,” ujar Prof. Acep.
Menurut akademisi ITB tersebut, karakter postmodernis Jaya Suprana tercermin dari cara berpikir, ekspresi berkesenian, penampilan, hingga pola interaksinya dengan lingkungan sosial.
Sikap eklektik, penghargaan terhadap pluralitas, identitas yang cair, fleksibilitas berpikir, serta kebebasan berekspresi menjadi sejumlah karakter yang memperkuat penilaian tersebut.
Sementara itu, Penulis dan Jurnalis Senior Aendra Medita mengungkapkan, buku Sang Penggagas lahir dari perjalanan panjang hubungan profesional sekaligus persahabatan dengan Jaya Suprana yang telah terjalin selama 26 tahun, sejak pertama kali bertemu pada 2000.
Kedekatan tersebut memberikan kesempatan bagi Aendra untuk mengenal lebih jauh pemikiran, karakter, perjalanan berkarya, serta berbagai inisiatif yang digagas pendiri Museum Rekor-Dunia Indonesia (MURI) tersebut.

Proses penulisan buku berlangsung intensif selama kurang lebih satu tahun, hasilnya bukan sekadar biografi yang merekam perjalanan hidup seorang tokoh, melainkan dokumentasi gagasan, kreativitas, dan kontribusi Jaya Suprana dalam berbagai bidang.
Aendra mengungkapkan, buku tersebut memuat sejumlah kisah menarik yang mungkin belum banyak diketahui publik.
Di antaranya penyelenggaraan konser bersejarah di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Cipinang yang dihadiri Presiden ke-4 RI Abdurrahman Wahid (Gus Dur) dan sastrawan Pramoedya Ananta Toer.
Selain itu, terdapat kisah mengenai monologi humor hingga keterlibatan dalam berbagai kegiatan seni lintas daerah, termasuk pementasan Tari Saman di Aceh.
Beragam cerita tersebut memperlihatkan bahwa gagasan Jaya Suprana tidak berhenti pada pemikiran, tetapi diwujudkan melalui aksi kreatif yang melintasi batas seni, budaya, sosial, dan kemanusiaan.
Aendra juga menceritakan proses pemilihan judul buku yang sempat mengalami perubahan, “Awalnya judul buku ini mau pakai kata ‘warisan’, tapi Jaya Suprana kurang cocok, lalu saya bilang, ‘Ini legasi, Pak, Akhirnya dipilihlah nama Sang Penggagas karena ide-ide Jaga Suprana selalu berkembang dinamis dan berkesinambungan,” ungkap Aendra.
Menariknya, proses kreatif penyusunan buku ini tidak hanya berlangsung pada penulisan konten, pembuatan sampulnya pun membutuhkan waktu hingga enam bulan.
Konsep visual dirancang secara khusus untuk merepresentasikan karakter dan kedekatan Jaya Suprana dengan kekayaan seni budaya Nusantara.
Motif batik Megamendung Cirebon dipilih sebagai elemen utama, corak khas tersebut merefleksikan kecintaan terhadap estetika visual tradisional Indonesia sekaligus menghadirkan pesan keharmonisan melalui perpaduan warna dan karakter artistik.

Pemilihan Kota Bandung sebagai lokasi peluncuran perdana juga bukan tanpa pertimbangan, meski sempat muncul wacana untuk menggelar debut buku di kawasan Kelapa Gading, Jakarta, komunikasi dan koordinasi dengan kalangan akademisi serta jejaring perguruan tinggi di Bandung akhirnya mengantarkan Unpad sebagai tempat peluncuran pertama.
Setelah peluncuran perdana di Unpad, perjalanan buku Sang Penggagas akan berlanjut melalui rangkaian tur dan diskusi di sejumlah kota besar di Indonesia.
Semarang, Bali, dan Surabaya menjadi beberapa kota yang telah masuk dalam agenda berikutnya.
Rangkaian kegiatan tersebut diharapkan tidak hanya memperluas jangkauan pembaca, tetapi juga membuka ruang dialog mengenai pemikiran, kreativitas, dan kontribusi tokoh-tokoh yang memiliki pengaruh terhadap perkembangan kebudayaan Indonesia.
Di tengah derasnya arus digitalisasi dan banjir informasi instan, penerbitan biografi kultural seperti Sang Penggagas memiliki arti penting.
Dokumentasi perjalanan seorang tokoh bukan sekadar upaya mengabadikan masa lalu, melainkan juga merawat gagasan agar tetap hidup dan dapat dipelajari oleh generasi berikutnya.
Lebih dari sekadar buku biografi, Sang Penggagas menjadi upaya merekam perjalanan seorang pemikir dan kreator yang memilih jalur berbeda dalam mengekspresikan kebudayaan.
Sebab, sebuah gagasan besar tidak semestinya berhenti pada penciptanya. Ia harus terus diwariskan, diperdebatkan, dikembangkan, dan menemukan relevansinya di tengah perubahan zaman.
Untuk pemesanan buku Jaya Suprana Sang Penggagas, dapat menghubungi nomor: 081311213003, buku ini dibanderol seharga Rp. 350.000. (RED)








