ARCOM-MEDIA, Bogor. Upaya EIGER Nature dalam mengembangkan kawasan berbasis alam mendapat perhatian dari WWF-Indonesia dan jejaring WWF Global.
Sebanyak 22 perwakilan WWF-Indonesia dan jejaring WWF Global mengunjungi EIGER Nature, Jumat, (11/9/2026), dalam rangkaian pertemuan Friends of Indonesia, menjelang destinasi tersebut dibuka untuk publik.
Kunjungan ini menjadi momentum untuk melihat secara langsung konsep EIGER Nature yang mengintegrasikan restorasi dan konservasi, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. Para peserta mengikuti guided site tour untuk mengenal lebih dekat perjalanan pengembangan kawasan tersebut.
Dalam kunjungan itu, peserta diajak melihat proses restorasi lahan kritis di kawasan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) I Regional 2 hingga upaya konservasi di Zona Pemanfaatan Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP).

Bagi EIGER Nature, kunjungan WWF berlangsung di tengah tahap akhir persiapan pembukaan destinasi untuk masyarakat umum.
Selain menyempurnakan fasilitas dan pengalaman pengunjung, pertemuan tersebut dimanfaatkan sebagai ruang dialog dan pertukaran perspektif untuk pengembangan EIGER Nature ke depan.
Direktur Utama EIGER Nature Imanuel Wirajaya mengatakan, EIGER Nature masih berada pada fase awal perjalanannya.
Karena itu, pihaknya membuka ruang untuk belajar, mendengar masukan, dan berkembang bersama berbagai pihak.

Menurut Imanuel, menghadirkan sebuah inisiatif yang memberikan manfaat bagi alam dan masyarakat membutuhkan kolaborasi serta perspektif dari berbagai pemangku kepentingan.
“Kami melihat EIGER Nature sebagai sebuah perjalanan yang baru saja dimulai. Karena itu, di fase awal ini kami ingin membuka diri untuk belajar, mendengar, dan bertumbuh bersama,” ujar Imanuel.
EIGER Nature dikembangkan sebagai bagian dari perjalanan panjang EIGER yang selama hampir empat dekade tumbuh dari kecintaan terhadap alam dan petualangan.
Melalui EIGER Nature, semangat tersebut diterjemahkan ke dalam sebuah ruang yang mempertemukan pengalaman pengunjung dengan upaya memberikan kontribusi positif bagi alam, budaya, dan masyarakat.

Dalam pengembangannya, EIGER Nature juga berkolaborasi dengan Balai Besar Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGGP) untuk mendukung konservasi, edukasi lingkungan, serta pemanfaatan kawasan secara bertanggung jawab.
CEO WWF-Indonesia Aditya Bayunanda mengatakan, kunjungan tersebut memberikan kesempatan bagi WWF untuk melihat langsung pendekatan yang dikembangkan EIGER Nature dalam mengintegrasikan restorasi dan konservasi dengan manfaat bagi masyarakat.
Menurut Aditya, kolaborasi antara sektor swasta, pemerintah, masyarakat lokal, dan organisasi konservasi memiliki potensi untuk mendukung upaya konservasi, termasuk dalam aspek pembiayaan konservasi di kawasan taman nasional.
“Hal menarik dari EIGER Nature adalah bagaimana sektor swasta bisa berusaha sambil ikut mengambil peran dalam menjaga alam, sambil tetap memberikan manfaat bagi masyarakat,” ujar Aditya.

Pertukaran perspektif antara EIGER Nature dan WWF-Indonesia serta jejaring WWF Global tersebut diharapkan menjadi awal bagi hubungan yang lebih luas. Fokus kerja sama yang terbuka antara lain mencakup konservasi, edukasi lingkungan, dan pemberdayaan masyarakat.
EIGER Nature tidak ingin pengalaman berkunjung hanya berhenti pada aktivitas menikmati keindahan alam. Pengunjung diharapkan pulang dengan pengalaman dan pemahaman baru mengenai pentingnya menjaga alam sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat di sekitarnya.
“Kami ingin EIGER Nature menjadi tempat di mana setiap orang yang berkunjung tidak hanya datang untuk menikmati alam, tetapi juga pulang dengan membawa pengalaman, pemahaman, dan makna yang baru tentang alam,” kata Imanuel.
Dengan pendekatan tersebut, EIGER Nature tengah membangun konsep destinasi yang tidak hanya menawarkan pengalaman berada di alam, tetapi juga menghubungkan aktivitas pengunjung dengan upaya restorasi, konservasi, edukasi lingkungan, serta pemberdayaan masyarakat. (RED)








