ARCOM-MEDIA, Bandung. Konferensi Asia Afrika (KAA) bukan sekadar catatan sejarah, melainkan titik lahirnya solidaritas global yang hingga kini masih relevan.
Semangat itu kembali digaungkan oleh Ketua Nazhir Masjid Agung Bandung (MAB) Roedy Wiranatakusumah, S.H., M.H., MBA., yang menyerukan agar Bandung tetap menjadi pusat gagasan besar dunia.
Dalam keterangannya di Bandung, Selasa (28/4/2026), Roedy Wiranatakusumah menegaskan, gaung Asia Afrika tidak boleh berhenti sebagai romantisme masa lalu.
Menurut Roedy Wiranatakusumah, Bandung harus terus dijaga sebagai simbol persatuan negara-negara berkembang sekaligus ruang lahirnya ide-ide strategis dunia.
Roedy Wiranatakusumah menyoroti peran penting Masjid Agung Bandung dalam perjalanan sejarah KAA.
Bagi Roedy Wiranatakusumah, tempat ibadah tersebut bukan hanya pusat spiritual, tetapi juga ruang kontemplasi yang melahirkan gagasan besar, termasuk dari .
“Ketika Soekarno datang ke Bandung, Soekarno tidak hanya hadir secara fisik, tetapi juga berproses secara batin di Masjid Agung, dari situlah lahir refleksi dan gagasan besar, termasuk semangat Non-Blok Asia Afrika,” ungkap Roedy Wiranatakusumah.
Lebih lanjut Roedy Wiranatakusumah mengungkapkan, Masjid Agung Bandung memiliki nilai historis kuat karena menjadi salah satu titik pertemuan para pemimpin dunia pada awal pelaksanaan KAA 1955, bahkan, sejumlah kepala negara Asia dan Afrika disebut sempat beribadah bersama di tempat tersebut.
Hal ini, menurut Roedy Wiranatakusumah menunjukkan Bandung bukan hanya pusat diplomasi politik, tetapi juga ruang pertemuan nilai-nilai spiritual yang melahirkan solidaritas global, “Inilah kekuatan Bandung yang harus terus dihidupkan di tengah generasi masa kini,” ujarnya.
Roedy Wiranatakusumah juga mengaitkan keberhasilan Bandung sebagai tuan rumah KAA dengan peran tokoh nasional R.A.A. Wiranatakusumah V.
Sosok R.A.A. Wiranatakusumah V dinilai memiliki kontribusi besar dalam memastikan kesiapan Bandung, mulai dari infrastruktur hingga dukungan administratif.

Sebagai Anggota BPPK (BPUPKI) R.A.A. Wiranatakusumah V, turut terlibat dalam proses penting perumusan dasar negara, termasuk dalam sidang yang membahas rancangan UUD 1945.
Selain itu, R.A.A. Wiranatakusumah V tercatat sebagai Menteri Dalam Negeri pertama Republik Indonesia serta pernah menjabat Bupati Bandung.
“Dalam waktu singkat, Bandung mampu bertransformasi menjadi kota yang siap menyambut peristiwa global. Itu tidak lepas dari peran tokoh-tokoh besar, termasuk R.A.A. Wiranatakusumah” ujar Roedy Wiranatakusumah.
Sebagai keturunan langsung Wiranatakusumah, Roedy mengaku memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga dan menghidupkan kembali warisan tersebut, Roedy menilai, semangat Asia Afrika perlu diperkuat melalui berbagai kegiatan yang melibatkan masyarakat luas.
Dalam momentum peringatan 71 tahun KAA, pihaknya akan menggelar rangkaian kegiatan bertajuk “Road to Asia Afrika” yang melibatkan akademisi, pelajar, budayawan, hingga jurnalis.
Roedy juga menekankan pentingnya peran media dalam menghidupkan kembali narasi Bandung sebagai “ibu kota Asia Afrika”.
“Ini bukan sekadar peringatan, tetapi upaya membangun kesadaran kolektif, Bandung harus tetap menjadi mercusuar dunia, tempat lahirnya gagasan perdamaian dan solidaritas internasional,” tegas Roedy Wiranatakusumah.
Di tengah dinamika geopolitik global, Roedy mengingatkan, nilai-nilai Non-Blok yang lahir dari KAA justru semakin relevan sebagai alternatif atas polarisasi dunia.
Roedy Wiranatakusumah berharap, menuju peringatan 75 tahun KAA, Bandung kembali menunjukkan eksistensinya sebagai pusat peradaban yang aktif berkontribusi.
“Sejarah ini harus dihidupkan, bukan hanya diingat, generasi sekarang harus memahami bahwa peran Indonesia di dunia pernah sangat strategis, dan itu lahir dari Bandung,” ujar Roedy Wiranatakusumah.
Dengan berbagai program yang disiapkan, Roedy optimistis Bandung dapat kembali menjadi simbol kekuatan moral dunia, Roedy pun mengajak seluruh elemen masyarakat untuk bersama menjaga warisan tersebut.
“Bandung adalah jantung Asia Afrika. Kalau kita tidak menjaganya, maka kita kehilangan identitas besar sebagai bangsa,” pungkas Roedy Wiranatakusumah. (RED)









